Salah Satu Kasus Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Kasus PT.

TANCHO INDONESIA Co vs. WONG A KIONG.

PT. Tancho Indonesia menggugat

Wong A Kiong, dalam gugatan disebutkan bahwa Tergugat meniru merek dagang

Tancho, sama secara keseluruhan. Barang kosmetik tersebut oleh pemiliknya telah

didaftarkan sejak tahun 1961 di Filipina, Singapura dan Hongkong. dan pada tahun yang

sama barang tersebut telah dikenal di Indonesia, lewat joint venture dengan NV The City

Factory (milik tergugat), berkedudukan di Jakarta. Dengan demikian, terbentuklah PT

Tancho Indonesia Co Ltd. Tergugat, Wong A Kiong, telah meniru merek penggugat sama secara keseluruhan untuk jenis barang yang sama (kosmetik). Bahkan Tergugat menyatakan sebagai pemakai merek Tancho pertama di Indonesia dan telah mendaftarkannya di Kantor Merek. Selain

itu, Tergugat juga mencantumkan dalam label merek, seolah-olah produksi barang buatan

luar negeri, padahal buatan dalam negeri.

72 Perkara Merek No.521/1971G, tanggal 6 Juli 1972. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tentang PT.

Tancho Co, Ltd ini banyak dijadikan yurisprudensi untuk memutus kasus-kasus merek terkenal. Putusan

tersebut merupakan tonggak momentum dimulainya banyak gugatan terhadap permasalahan-permasalahan

merek di Indonesia. Pada masa UUM 1961 diberlakukan terjadi peningkatan kasus merek terkenal secara

signifikan, dari hanya 2 kasus merek tahun 1964, menjadi 283 perkara merek tahun 1991. Sehingga

tidaklah berlebihan bila kasus PT. Tancho Co, Ltd ini menjadi kasus yang melegenda di kalangan para

pengamat dan praktisi hukum merek. Tergugat pada pokoknya menyangkal bahwa Penggugat sebagai pemilik dan pemakai pertama merek dagang Tancho di Indonesia, yakni sejak tahun 1949. Tancho Co Ltd yang berkedudukan di Osaka, Jepang dan bukan Tergugat. Tergugat tidak berhak

sama sekali atas merek Tancho tersebut baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Sebaliknya, menurut Tergugat dirinyalah sebagai satu-satunya yang berhak dan sebagai

pemilik merek dagang Tancho.

Dalam pertimbangan hukumnya Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

menyatakan; merek dagang Tancho yang didaftarkan di tiga negara oleh Tancho Co Ltd,

bukanlah milik Penggugat sekarang ini, sehingga Penggugat dalam mengemukakan

pendiriannya sebagai pemakai pertama di Indonesia karena adanya pendaftaran di ketiga

negara tersebut, tidak dapat dibenarkan. Dari bukti-bukti yang ada, tidak satupun nama

Penggugat tercantum tentang adanya transaksi, dalam pengiriman barang-barang merek

Tancho ke Indonesia, tetapi kepada pihak lain. Bahwa Penggugat, yakni PT Tancho

Indonesia Co Ltd baru didirikan tahun 1969 antara Tancho Co Ltd Jepang dengan NV

The City Factory, sedangkan Tergugat telah mendaftarkan merek Tancho tahun 1965,

sehingga Penggugat tidak dapat menganggap dirinya sebagai pemilik dan pemakai

pertama merek dagang Tancho di Indonesia. Pengakuan Penggugat sendiri bahwa

sekalipun secara lisan, Kantor Merek menolak pendaftaran merek Penggugat. Tidak

mungkin hak atas merek yang hanya didaftarkan di luar Indonesia saja, harus dilindungi

pula di dalam wilayah Indonesia, seperti halnya merek Tancho yang terlebih dahulu

didaftarkan orang lain di Indonesia.

Dalam putusannya, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 6 Juli 1972

menyatakan mengabulkan gugatan-gugatan tersebut untuk sebagian, yaitu: menyatakan

bahwa Tergugat, Firma Tancho Tokyo Osaka Company (Wong A Kiong) adalah satusatunya

yang berhak di wilayah Indonesia untuk memakai nama dan merek Tancho

sebagai nama perusahaan. Menyatakan bahwa Penggugat PT Tancho Indonesia Co Ltd

telah melakukan perbuatan melawan hukum terhadap Tergugat. Menghukum Tergugat

untuk segera menghentikan pemakaian merek dagang Tancho dan Tan Ting dalam huruf

Kanji dan gambar burung Bango terbang dalam lingkaran, untuk semua produk barang

kosmetika. Menghukum tergugat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sesudah putusan ini

diucapkan, mencabut dan menarik dari peredaran di Indonesia, semua produksinya yang

memakai merek dagang Tancho.

Penggugat dalam hal ini PT Tancho Indonesia Co Ltd mengajukan kasasi, dengan

keberatan-keberatan yang pada pokoknya antara lain: Penggugat untuk kasasi (PT

Tancho Indonesia Co Ltd) pada hakikatnya tidak lain adalah Tancho Kabushiki Kaisha

(Tancho Co Ltd Jepang) yang sudah lama beroperasi di Indonesia dengan merek dagang

Tancho. Joint venture dengan NV The City Factory hanyalah sekedar bentuk yuridis

formal untuk memenuhi persyaratan formal yang ditentukan oleh UU No. 1 Tahun 1967

tentang Penanaman Modal Asing, karena itu mempunyai hak yang sama atas merek

Tancho, dan Penggugat tidak dapat dipisahkan dengan Tancho Co Ltd Jepang dalam

menuntut hak pemakai pertama atas merek Tancho di Indonesia.

Penggugat menyatakan bahwa anggapan Pengadilan Negeri secara a priori bahwa

apabila suatu merek terkenal di luar negeri serta terdaftar diberbagai negara serta

produknya beredar di Indonesia, hukum Indonesia tidak melindunginya, adalah tidak

benar sama sekali, karena soal pemakai pertama atas merek di Indonesia menurut UUM

1961 tidak ada disebut keharusan untuk mendaftarkan melainkan hanya disebut diberi

perlindungan hukum apabila sudah terdaftar.

Dalam putusannya, Mahkamah Agung, antara lain menyatakan, bahwa menurut

UUM 1961, pendaftaran suatu merek hanyalah memberikan hak kepada orang lain atau

badan hukum yang dianggap sebagai pemakai pertama dari merek tersebut di Indonesia,

sampai dibuktikan sebaliknya oleh pihak lain.

Persetujuan antara PT Tancho Co Ltd Jepang dengan NV The City Factory dan

mendirikan PT Tancho Indonesia Co Ltd dalam bentuk joint venture, telah sesuai dengan

UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, dalam arti dapat secara bersama

menggunakan merek Tancho dan kepemilikan suatu merek bersama itu diperbolehkan

UUM 1961, karena itu Penggugat diperbolehkan menggunakan dan memperjuangkan

merek Tancho tersebut di Indonesia.

Antara merek yang didaftarkan oleh Tergugat dengan merek yang didalilkan

sebagai milik Penggugat ada persamaan. Seharusnya Hakim Pertama mempertimbangkan

soal ini, karena persoalan pemakaian nama barulah timbul dalam hal adanya persamaan

itu. Menurut pendapat Mahkamah Agung, antara merek yang sekarang dipakai dan

didaftarkan oleh Tergugat dengan merek yang oleh Penggugat dibuktikan sebagai

miliknya dan telah dipakainya lebih dulu di wilayah Indonesia, ada persamaan dalam

keseluruhannya. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka Hakim harus bersikap keras terhadap

segala macam usaha yang mengandung itikad yang tidak baik untuk meniru merek orang

lain, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Sesuai dengan maksud UUM 1961 yang mengutamakan perlindungan terhadap

khalayak ramai, maka perkataan “pemakai pertama di Indonesia” harus ditafsirkan

sebagai “pemakai pertama di Indonesia yang jujur dan beritikad baik”, sesuai dengan asas

hukum bahwa perlindungan diberikan kepada orang yang beritikad baik dan tidak kepada

orang yang beritikad buruk.

Mahkamah Agung membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan

mengabulkan gugatan Penggugat asal dengan menyatakan:73

“Menerima permohonan kasasi dari penggugat untuk kasasi PT Tancho

Indonesia Co Ltd. Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta

Pusat No. 53/1972 G, tanggal 30 Maret 1972. Membatalkan putusan

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 521/1971 G dan No. 53/1972 G,

tanggal 6 Juli 1972. Memerintahkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

memeriksa dan memutus tersendiri perkara No. 53/1972 G.”

Mengadili sendiri: mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian; menyatakan

Penggugat adalah pemilik dan pemakai pertama merek dagang tersebut di Indonesia;

membatalkan pendaftaran merek-merek dagang atas nama Tergugat; menolak gugatan

Penggugat untuk selebihnya.

One response to “Salah Satu Kasus Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

  1. hal terpenting dalam memilih maupun akan menjalankan Business Opportunity,Franchise,atau Waralaba
    bukan semata-mata terletak pada seberapa bagus produk yang akan di jual,serta seberapa besar kebutuhan pasar akan produk tersebut.
    pernahkah terbayangkan tiba-tiba anda harus mengganti merek disaat business sedang berkembang pesat karena adanya tuntutan dari pihak lain atas Merek yang digunakan ?

    Untuk mendapatkan konsumen yang loyal,kita harus selalu mengedepankan innovation. namun besarnya biaya untuk menebus sebuah innovation tanpa adanya perlindungan hukum terhadap merek merupakan langkah yang sia-sia,
    coba anda bayangkan berapa banyak waktu,tenaga,fikiran,bahkan uang yang terbuang demi tercapainya innovation sebuah merek.bagaimana rasanya jika merek tersebut di palsukan oleh competitors anda? Kesadaran akan pentingnya mendaftarkan merek dagang merupakan bukti nyata keseriusan anda dalam membangun sebuah business.

    inilah pentingnya fungsi daftar merek,desain industri,hak cipta,paten.

    Konsultasikan merekdagang anda segera pada http://www.ipindo.com konsultan HKI terdaftar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s